METROPAGI.ID, PASURUAN – Bukan lagi soal satu insiden. Bukan lagi soal satu janji. Ini soal perasaan yang terbentuk pelan-pelan, dari satu momen ke momen berikutnya, di benak masyarakat yang tinggal jauh di ujung timur Kabupaten Pasuruan.
Kekecewaan tidak lahir dalam semalam.
Kekecewaan lahir dari akumulasi. Dari harapan yang berulang kali diuji, dan berulang kali pula terasa belum terjawab.
Sembilan seri sebelumnya, FORMAT Pasuruan menuliskan fakta demi fakta, satu per satu, dengan hati-hati.
Tapi kalau semua fakta itu dilihat sebagai satu kesatuan, bukan potongan-potongan terpisah, gambarannya menjadi jelas: Pasuruan Timur — Lekok, Nguling, dan desa-desa di sekitarnya — sedang menyimpan kekecewaan yang sudah lama dipendam.
Kecewa karena janji yang dulu disuarakan lantang di masa kampanye, kini terasa jauh dari kenyataan. Kecewa karena saat mereka menutup jalan nasional demi menuntut keselamatan mereka sendiri, yang datang hanya perwakilan — bukan pemimpin yang mereka pilih langsung.
Kecewa karena melihat kehadiran yang begitu mudah diberikan untuk investasi, untuk mitra usaha, untuk seremoni pembangunan — sementara kehadiran untuk mereka sendiri terasa begitu berat untuk diberikan.
Kecewa karena komitmen yang konon pernah dituliskan, konon pernah disaksikan, kini seolah menjadi kenangan yang hanya diingat oleh yang menerima janji, bukan oleh yang mengucapkannya.

Ini bukan kekecewaan segelintir orang.
Ini kekecewaan yang dirasakan bersama, oleh warga yang tinggal di wilayah yang sama, menghadapi persoalan yang sama, menunggu jawaban yang sama — dan sejauh ini, menerima kesunyian yang sama.
FORMAT Pasuruan ingin mengatakan sesuatu yang sederhana kepada Bupati Rusdi Sutejo, mewakili apa yang selama ini dirasakan banyak warga Pasuruan Timur:
Kekecewaan ini belum berubah menjadi kemarahan yang tidak bisa diperbaiki.
Kekecewaan ini masih bisa dijawab, masih bisa diobati, masih bisa diubah menjadi kepercayaan kembali — asalkan dijawab dengan kehadiran yang nyata, bukan dengan kesunyian yang berkepanjangan.
Tapi kekecewaan yang dibiarkan terlalu lama, tanpa jawaban, tanpa kehadiran, tanpa itikad yang bisa dirasakan langsung oleh warga — pada akhirnya akan mengeras menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit diperbaiki.
Pasuruan Timur bukan sedang mencari alasan untuk membenci pemimpinnya.
Pasuruan Timur sedang mencari alasan untuk kembali percaya. Dan alasan itu, hanya bisa diberikan oleh satu orang: Bupati Pasuruan sendiri, lewat langkah nyata, bukan lewat kata-kata yang sudah terlalu sering didengar tanpa diikuti tindakan. (Syr)
# OPINI FORMAT PASURUAN — SERI 10
Oleh: Ismail Makky, SE., SH., MM.
FORMAT Pasuruan (Forum Rembuk Masyarakat Pasuruan) — memantau dan mengawal akuntabilitas publik di Kabupaten Pasuruan.








