METROPAGI.ID, – PONOROGO – Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan SMADA Islamic Festival atau yang akrab disapa SIF 2026. Mengusung tema “Unleash your potential with islamic values”, ajang berlangsung Sabtu, 25 April 2026, diikuti 696 peserta dari berbagai sekolah dan lembaga se-Karesidenan dan sekitarnya. Selain bersaing, kegiatan ini menjadi wadah belajar dan memperkuat jati diri generasi muda yang cerdas dan berakhlak.
Kepala SMAN 2 Ponorogo, Mursyid, S.Pd., M.Pd., menyatakan SIF lahir dari kesadaran akan pentingnya keseimbangan kemampuan teknologi dan akademik dengan pondasi moral serta spiritual.
“Di era digital ini, anak-anak cepat belajar dan beradaptasi, tapi kepintaran tak akan berarti jika tak diimbangi kesadaran benar dan salah. SIF jadi sarana membentuk karakter, di mana kejujuran dan sportivitas adalah kemenangan sesungguhnya. Kami ingin mencetak pemimpin masa depan yang kompeten, berdaya saing global, namun tetap beradab dan berpegang teguh pada nilai luhur,” tegasnya saat pembukaan acara yang dihadiri pengawas pendidikan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Dalam edisi tahun 2026 ini, panitia menyajikan tujuh cabang lomba yang dirancang mencakup aspek keilmuan, penghafalan, hingga kesenian islami, sehingga seluruh peserta memiliki ruang untuk menyalurkan minat dan bakat masing-masing. Cabang yang dipertandingkan meliputi Olimpiade Islam yang menguji pemahaman mendalam tentang aqidah, fiqih, sejarah peradaban Islam, dan kemampuan analisis terhadap persoalan kekinian; Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang menilai keindahan, ketepatan, dan pemahaman makna dalam membaca Al-Qur’an; serta Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Olimpiade. Selain itu, terdapat juga cabang seni seperti Solo Vokal, Da’i, Hadroh Umum dan Hadroh Ibu-ibu.

Saskia Umi Layla, selaku Ketua Pelaksana kegiatan, mengungkapkan bahwa persiapan SIF melibatkan ratusan panitia yang sebagian besar merupakan siswa SMAN 2 Ponorogo sendiri. Mulai dari penyusunan konsep, pendataan peserta, penyediaan sarana prasarana, hingga penyusunan materi dan sistem penilaian, semua dilakukan dengan perencanaan yang matang agar acara berjalan sesuai jadwal dan tujuan. Proses persiapan inilah yang justru menjadi ruang pembelajaran terbesar. Mulai dari menyusun konsep, mengatur anggaran, berkoordinasi dengan berbagai pihak, hingga menyelesaikan berbagai kendala yang muncul, seluruhnya dilakukan dengan prinsip tanggung jawab, musyawarah, dan kekeluargaan.
“Bagi kami, juara bukanlah tujuan akhir. Sasaran utama kegiatan ini adalah membentuk fondasi kepemimpinan yang kokoh. Semua nilai inilah yang akan mereka bawa dan terapkan dalam kehidupan nyata, jauh setelah acara ini selesai,” jelas Saskia.
Keberhasilan penyelenggaraan SIF 2026 pada hari itu tidak terlepas dari dukungan penuh dari berbagai pihak. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ponorogo memberikan apresiasi dan dukungan, dan tidak kalah penting, dukungan dari orang tua siswa dan komunitas masyarakat juga menjadi energi pendorong yang membuat acara ini berjalan lancar, khidmat, dan meriah, serta sponsor lokal seperti Hoki, Neutron dan GDC turut andil mendukung acara ini.
Di akhir rangkaian acara yang ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah pada malam harinya, seluruh rangkaian kegiatan berakhir dengan kesan mendalam bagi semua pihak yang terlibat.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan pada Sabtu, 25 April 2026 tersebut, SIF 2026 tidak hanya meninggalkan kenangan indah dan deretan nama pemenang, tetapi juga telah berhasil menorehkan catatan penting dalam perjalanan pendidikan di daerah ini. Ajang ini kini diakui sebagai salah satu barometer keberhasilan penerapan program pendidikan karakter berbasis religi, sekaligus bukti nyata bahwa lembaga pendidikan mampu menjadi garda terdepan dalam melindungi dan membentuk generasi muda.
Ke depannya, SMAN 2 Ponorogo berkomitmen untuk terus mengembangkan konsep SIF, mengintegrasikannya lebih erat dengan pembelajaran berbasis teknologi, sehingga peserta tidak hanya memperkuat nilai-nilai spiritual, tapi juga tetap mengasah kompetensi digital secara positif. Harapannya, model pembelajaran dan pembinaan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain, sehingga bersama-sama kita mampu melahirkan generasi muda yang tangguh, unggul, dan selalu mampu menjawab tantangan zaman dengan identitas dan akhlak yang terjaga.
Red-(SW)








