METROPAGI.ID, PASURUAN — Bau busuk mirip bangkai kembali meneror perkampungan warga di sekitar kawasan industri. Aroma tak sedap ini juga sangat dikeluhkan oleh para pengguna jalan yang melintas di depan kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER).
Akibat kejadian ini, warga dan pengguna jalan mempertanyakan tugas pokok serta fungsi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur.
Sejumlah warga dari Desa Curah Dukuh, Kecamatan Kraton, dan Desa Pejangkungan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, yang enggan disebutkan namanya, mengutarakan keluhan mereka kepada awak media. Mereka mengaku bahwa warga satu kampung setiap hari harus menghirup bau bangkai, terutama saat angin bertiup dari arah timur ke barat.
Warga menduga sumber bau menyengat tersebut berasal dari salah satu perusahaan di kawasan PIER, yakni PT Sumber Asia—yang sering disebut warga sebagai “pabrik belung”. Bau busuk ini dinilai sangat mengganggu pernapasan dan menurunkan nafsu makan karena terus meneror warga setiap saat.
“Tetap saja aroma bau busuk tersebut tidak pernah hilang, apalagi jika angin bertiup dari timur ke barat. Bau busuk itu tercium sampai ke kampung kami, mau tidak mau kami harus menghirupnya setiap hari. Kami mempertanyakan kemana tugas dan peran fungsi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur,” keluh warga kepada awak media.
Keluhan senada juga disampaikan oleh seorang pengendara jalan bernama Muntholib. Ia mengaku sering mencium bau busuk yang sangat menyengat hingga nyaris muntah saat melintasi jalan raya kawasan PIER, khususnya menjelang akses masuk tol PIER, baik pada siang maupun malam hari.

“Saat siang hari ini ketika saya melewati jalan raya kawasan PIER arah tol, pasti saya mencium bau busuk yang sangat menyengat. Bau busuk ini sudah lama terjadi, namun kenapa seolah-olah dibiarkan hingga hari ini masih tercium? Kasihan warga sekitar perusahaan, mereka mau tidak mau setiap hari disugihi bau busuk seperti ini, bahkan sampai ke Desa Pekoren,” ujarnya pada Jumat, 24 Juni 2026.
Saat awak media berupaya mengonfirmasi permasalahan ini kepada pihak HRD PT Sumber Asia (pabrik pengelolaan tulang), satuan pengamanan (satpam) yang bertugas menyatakan bahwa yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat.
“Dia lagi di Sidoarjo,” ujar petugas keamanan pabrik secara singkat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Sumber Asia belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan pencemaran udara dan keluhan yang disampaikan oleh warga sekitar. (syr)








