Menu

Mode Gelap

Berita Utama · 8 Jun 2026 09:32 WIB ·

RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan Kembali Disorot, Transparansi Informasi Medis Berujung Fatal


 RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan Kembali Disorot, Transparansi Informasi Medis Berujung Fatal Perbesar

METROPAGI.ID,PASURUAN – Pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, dugaan kelalaian terkait transparansi informasi medis berujung fatal. Seorang pasien atas nama Yusuf yang beralamat di Jl. Hangtuah GG. 4 RT/RW 002/004 Kelurahan Gadingrejo Kecamatan Gandingrejo Kota Pasuruan dilaporkan meninggal dunia setelah pihak keluarga diduga tidak mendapatkan kejelasan mengenai diagnosa penyakit dari dokter yang menangani.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga korban, insiden memilukan ini bermula saat pasien berulang kali meminta minum selama menjalani perawatan. Karena tidak mengetahui diagnosa medis yang diderita pasien, pihak keluarga menganggap permintaan minum tersebut sebagai hal yang wajar dan memenuhinya.

Namun, petaka terjadi setelah pasien mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak. Kondisi kesehatan pasien mendadak drop secara drastis. Panik dengan perubahan kondisi tersebut, pihak keluarga berinisiatif menanyakan rekam medis pasien kepada perawat yang bertugas.

Baca Juga :  Tak Terima Dengan Putusan Banding, Ayik Suhaya Gebrak Pengadilan Tinggi Surabaya, KPK-KY Didesak Bongkar Dugaan Transaksional!”

Bak disambar petir, pihak keluarga baru mengetahui dari catatan rekam medis bahwa pasien ternyata mengidap penyakit jantung. Dalam dunia medis, pasien dengan gangguan jantung tertentu memiliki batasan ketat (restriksi) cairan, dan dilarang keras mengonsumsi air putih secara berlebihan karena dapat membebani kerja jantung.

“Kami sama sekali tidak tahu kalau ada penyakit jantung, karena dokter tidak memberikan informasi atau peringatan sejak awal. Kami kira haus biasa, makanya kami beri minum. Kalau saja sejak awal kami diberi tahu, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini,” ungkap salah satu anggota keluarga dengan nada penuh penyesalan dan kekecewaan mendalam.

Kekecewaan keluarga kian memuncak ketika mereka mencoba meminta klarifikasi resmi dari manajemen RSUD dr. R. Soedarsono mengenai buruknya komunikasi penanganan medis tersebut. Bukannya mendapatkan jawaban atau evaluasi, pihak rumah sakit milik pemerintah daerah ini justru memilih bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan duduk perkara.

Baca Juga :  Dirgahayu Republik Indonesia! HUT ke-81 RI, Kelurahan Tambaan Kecamatan Panggungrejo Semarakkan Kemerdekaan

Sesuai dengan Undang-Undang Hak Pasien dan Kode Etik Kedokteran, pasien maupun keluarga memiliki hak penuh untuk mendapatkan informasi yang jelas dan jujur mengenai diagnosa, rencana tindakan, hingga risiko medis. Kelalaian dalam penyampaian informasi ini diduga kuat menjadi pemicu utama terjadinya fatalitas yang merenggut nyawa pasien.

Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak manajemen dan Humas RSUD dr. R. Soedarsono guna mendapatkan perimbangan informasi terkait tudingan miring yang dilayangkan oleh pihak keluarga korban. (Syr/Red)

Artikel ini telah dibaca 90 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kabel Provider Menumpang Tiang PJU Milik Pemerintah, Plt Kadishub Hermanto Tegaskan Batas Waktu 1–2 Minggu

7 September 2026 - 11:35 WIB

Kabid Perkim Pasuruan Dinilai Menghambat Digitalisasi, Kinerja dan Keterbukaan Publik Dipertanyakan

7 September 2026 - 08:29 WIB

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKB Desak Kemdagri, Sound Horeg Dilarang Secara Nasional

6 September 2026 - 12:22 WIB

Carnival Desa Oro-oro Ombo Wetan 2026 Membawa Berkah Bagi Pelaku UMKM di Sekitar Lokasi

6 September 2026 - 09:28 WIB

Karanganyar Berkilau di Malam Kemerdekaan! Karnaval Night HUT Ke-81 RI Dibanjiri Antusiasme Warga

6 September 2026 - 06:11 WIB

Dianggap Diskotik Berjalan dan Marak Miras, Ulama & Kiai Pasuruan Ramai-ramai Tolak Sound Horeq

5 September 2026 - 07:42 WIB

Trending di Berita Utama