Menu

Mode Gelap

Berita Utama · 26 Mar 2026 02:59 WIB ·

Paska Banjir Jalan Raya Pantura Dipenuhi Lumpur Coklat, Dugaan Kuat Dampak Dari Pertambangan di Hulu Sungai Petung


 Paska Banjir Jalan Raya Pantura Dipenuhi Lumpur Coklat, Dugaan Kuat Dampak Dari Pertambangan di Hulu Sungai Petung Perbesar

METROPAGI.ID, PASURUAN – Hujan deras mengguyur wilayah Pasuruan raya dan mengakibatkan banjir menggenangi disejumlah rumah-rumah penduduk, tidak terkecuali di wilayah Pantura, namun sekalipun banjir 1 hari penuh yang sempat merendam jalur Pantai Utara (Pantura) akibat luapan Sungai Petung sudah surut, namun berdasarkan pantauan di lokasi, material lumpur cokelat tampak menutupi hampir seluruh permukaan aspal. Jejak roda kendaraan menciptakan alur-alur licin yang membuat laju kendaraan, terutama sepeda motor, menjadi tidak stabil.

Munculnya lumpur tebal ini merupakan residu dari banjir luapan Sungai Petung yang sebelumnya sempat memutus akses utama di jalur tersebut. Ketebalan lumpur yang bervariasi di beberapa titik jalan membuat aspal tidak terlihat sama sekali, sehingga membahayakan bagi mereka yang tidak terbiasa melintasi area tersebut.

Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Forum Rembuk Masyarakat (FORMAT) Pasuruan dan Juga Penggiat Lingkungan Hidup “ Rumah Hijau “ , Ismail Makky, mengatakan “ Berdasarkan data ESDM Provinsi Jawa Timur menunjukkan konsentrasi kegiatan pertambangan yang sangat besar di hulu Sungai Petung, khususnya di wilayah Kejayan (Kedungpengaron) dan Kejayan/Pasepan (Cobanjoyo)” ujarnya. Kamis (26/03/2026)

Baca Juga :  Menggantung Nasib PPPK: Antara Harapan Daerah dan Realitas Kebijakan Pusat

Total Luas Lahan Terbuka, di Desa Kedungpengaron saja terdapat sekitar 52,6 Ha lahan operasional (OP), sementara di Cobanjoyo terdapat lebih dari 160 Ha lahan (campuran OP dan Eks/Eksplorasi). Lahan terbuka seluas ini menghilangkan fungsi serapan air tanah secara drastis.

Sedimentasi Material, Kegiatan operasional dari perusahaan seperti Bumi Gunung Hitam, Bumi Gunung Merah, Pasir Mas Munir, dan Herza Pasir Investama berisiko melepaskan sisa material tambang (sedimen) ke aliran sungai. Hal ini menyebabkan pendangkalan (sedimentasi) di dasar Sungai Petung, sehingga daya tampung air sungai berkurang tajam.

Laju Air (Run-off), Tanpa vegetasi di area tambang, air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa hambatan, memicu banjir bandang atau luapan air yang membawa lumpur ke wilayah pemukiman di hilir.
Kondisi ini memerlukan evaluasi terkait kepatuhan dokumen Amdal atau UKL-UPL, terutama mengenai penyediaan kolam retensi (sediment pond) agar material tambang tidak langsung masuk ke badan sungai.

Baca Juga :  Memperingati HUT Bhayangkara ke-80, LBH Soksi Berikan Kejutan Tumpeng di Polsek Rembang

Berikut data ESDM Profinsi Jawa Timur terkait perusahaan tambang di hulu sungai Petung, Kecamatan Kejayan, Kab. Pasuruan
Desa Kedungpengaron
1. BUMI GUNUNG HITAM -> OP (7,08 Ha)
2. BUMI GUNUNG MERAH -> OP (22,98 Ha)
3. PASIR MAS MUNIR -> OP (11,01 Ha)
4. HERZA PASIR INVESTAMA -> OP (11,53 Ha)

Desa Cobanjoyo
1. PASIR MAS MUNIR (42.93 Ha) -> OP
2. PUTRA PUTRI MAHKOTA BERSAUDARA (31,04 Ha) -> Eks
3. PUTRA PUTRI MAHKOTA BERSAUDARA (65,09 Ha) -> Eks
4. SALI LUKMAN NGAWU (21,75 Ha) -> OP. (sry)

Artikel ini telah dibaca 47 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pembangunan Jalan Vital Gondanglegi–Balekambang Capai 70 Persen, Target Rampung Desember 2026

17 Juli 2026 - 06:46 WIB

Penutupan MPLS SMKN 1 Bendo Magetan Menyulut Semangat Menjadi Pejuang Vokasi Tangguh

17 Juli 2026 - 06:00 WIB

Dongkrak Perekonomian Masyarakat, Pemkab Malang Usulkan Rp 135 Miliar Untuk Perbaikan 3 Ruas Jalan Lintas Selatan

17 Juli 2026 - 05:53 WIB

Banser Datangi Kejati Jatim, Protes Kejanggalan Penanganan Yang Ditangani Kajari Bangil, Kasus Penjualan Perusahaan di PIER

16 Juli 2026 - 07:20 WIB

Akuntabilitas ASN di Kabupaten Pasuruan Pasal 18 UU Pers Bukan Pasal Tidur, Ketika Larangan Merekam Menjadi Ujian Transparansi

16 Juli 2026 - 06:18 WIB

Antara Persekabpas (Dijanjikan Milik Rakyat) dan Pasuruan United (Milik Swasta): Pada Akhirnya, Publik Berhak Tau

16 Juli 2026 - 05:08 WIB

Trending di Berita Utama