Menu

Mode Gelap

Berita Utama · 22 Des 2024 12:31 WIB ·

Watu Gilang, Benteng Pertahanan dan Tempat Meregang Nyawa Para Prajurit Kerajaan Kediri 


 Watu Gilang, Benteng Pertahanan dan Tempat Meregang Nyawa Para Prajurit Kerajaan Kediri  Perbesar

METROPAGI.ID, MALANG – Watu Gilang di Dusun Ngabab, Desa Ngabab, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang kabarnya menjadi dalang pembantaian pasukan Kerajaan Kediri oleh pasukan Singosari yang dipimpin Ken Arok. Situs yang berada di kawasan hutan Perhutani di perbatasan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang itu berada di pegunungan yang jalurnya hanya setapak dan menanjak serta berdebu.

Sementara itu, menurut juru kunci situs Watu Gilang, Cukup Sudarsono, 70, di kompleks itu terdapat sekitar 25 makam dan benteng dari batu setinggi 4 meter dengan panjang sekitar 27 meter.Tempat tersebut menurut berbagai informasi pernah menjadi lokasi pertempuran antara Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Kertajaya dan pasukan Kuwu Tumapel yang dipimpin Ken Arok.

Pertempuran itu bermula dari pertentangan antara para brahmana dan Raja Kertajaya (Kediri). Hal ini terjadi karena para brahmana menolak menyembah raja yang menganggap dirinya sebagai dewa.

Para brahmana lalu meminta perlindungan kepada Ken Arok. Saat itu Ken Arok merupakan akuwu dari Tumapel, setelah sebelumnya membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes. Kesempatan ini digunakan Ken Arok untuk membebaskan Tumapel dari kekuasaan Kediri.

Baca Juga :  Camat Gadingrejo Lantik 28 Ketua RT dan 5 Ketua RW di Kelurahan Gading, Tekankan

Pasukan Tumapel menuju Kediri melalui jalur Gunung Dworowati. Akhirnya terjadi pertempuran di Ganter, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Dworowati Pujon. Pada pertempuran itu, pasukan Kediri menghadapi prajurit Tumapel pimpinan Ken Arok yang didukung para brahmana dari Kediri, sedangkan pemimpin dari pasukan Kediri adalah Mahisa Wulungan, saudara dari Raja Kertajaya. Pertempuran dimenangkan oleh pasukan Tumapel.

Sampai saat ini lokasi tempat terjadinya pertempuran tentara Tumapel melawan Kediri, terdapat banyak peninggalan arkeologis. Salah satunya adalah watu gilang atau sebuah benteng setinggi 4 meter dengan panjang 27 meter yang tersusun sangat rapi. Benteng ini diduga merupakan sarana pertahanan pasukan Kediri untuk menghalau serangan dari pasukan Tumapel yang dipimpin Ken Arok.

Di sekitar benteng yang disebut dengan Watu Gilang juga terdapat beberapa makam kuno. Menurut juru kunci watu gilang, makam tersebut merupakan persemayaman terakhir dari prajurit yang gugur saat pertempuran itu.

Di situs Watu Gilang ini terdapat beberapa tulisan kuno yang terpampang di salah satu batu. Bentuk tulisan di Watu Gilang itu berbeda dengan temuan pada seluruh situs di wilayah Jawa Timur. Adapun makna dari tulisan yang ada di watu gilang, hingga kini belum berhasil diungkap.

Baca Juga :  Ojin Menggila di Lintasan ! Pembalap Asli Pasuruan Sabet Podium 1 Kejurprov Kalimantan

Selain benteng dan makam kuno, di kompleks situs Watu Gilang dulunya juga terdapat arca berukuran besar. Tak jauh dari komplek pemakaman watu gilang, tepatnya di puncak Gunung Kukusan, terdapat sebuah makam kuno, namun tidak diketahui secara pasti keterkaitan makam ini dengan pertempuran Ganter yang terjadi di Gunung Dworowati.

Sementara itu ada yang menduga kompleks di Watu Gilang itu dulunya diduga sebagai mandala kadewaguruan, atau pusat pembelajaran agama Hindu. Nah kemudian di masa Islam, lokasi itu juga digunakan semacam pesantren. Lalu, ketika para penyebar Islam itu meninggal, mereka dimakamkan di sana.

Sehingga dia menduga makam yang ada sat ini bukan makam prajurit Kediri atau Tumapel di masa Hindu seperti yang banyak dipercaya masyarakat. Tetapi makam Islam yang ditandai dengan batu nisan, yang mana makam itu jauh setelah peristiwa perang Ganter. Sebab, dalam sejarah, tidak pernah ada orang Hindu yang dimakamkan dengan ditandai batu nisan. (Red)

Artikel : Fakta Sejarah Bangsa

Artikel ini telah dibaca 245 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kabel Provider Menumpang Tiang PJU Milik Pemerintah, Plt Kadishub Hermanto Tegaskan Batas Waktu 1–2 Minggu

7 September 2026 - 11:35 WIB

Kabid Perkim Pasuruan Dinilai Menghambat Digitalisasi, Kinerja dan Keterbukaan Publik Dipertanyakan

7 September 2026 - 08:29 WIB

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKB Desak Kemdagri, Sound Horeg Dilarang Secara Nasional

6 September 2026 - 12:22 WIB

Carnival Desa Oro-oro Ombo Wetan 2026 Membawa Berkah Bagi Pelaku UMKM di Sekitar Lokasi

6 September 2026 - 09:28 WIB

Karanganyar Berkilau di Malam Kemerdekaan! Karnaval Night HUT Ke-81 RI Dibanjiri Antusiasme Warga

6 September 2026 - 06:11 WIB

Dianggap Diskotik Berjalan dan Marak Miras, Ulama & Kiai Pasuruan Ramai-ramai Tolak Sound Horeq

5 September 2026 - 07:42 WIB

Trending di Berita Utama