Menu

Mode Gelap

Berita Utama · 20 Jul 2026 03:13 WIB ·

Persekabpas Dijanjikan Milik Rakyat dan Pasuruan United Milik Swasta “Not For Sale.” Lalu Siapa Yang Beli?


 Persekabpas Dijanjikan Milik Rakyat dan Pasuruan United Milik Swasta “Not For Sale.” Lalu Siapa Yang Beli? Perbesar

METROPAGI.ID, PASURUAN – Ada sebuah anekdot sederhana. Kalau ada orang berdiri di depan rumahnya sambil berteriak, “Rumah saya tidak dijual!”, orang yang lewat biasanya tidak langsung bertanya soal rumah itu. Mereka justru akan bertanya, “Memangnya ada yang mau beli?” Pernyataan seperti itu hanya menarik perhatian ketika memang ada pembeli yang berebut.

Belakangan, Suryono Pane menegaskan bahwa Pasuruan United “not for sale”, sebagaimana disampaikan dalam wawancaranya. Pernyataan itu terdengar tegas. Namun, muncul pertanyaan yang barangkali lebih sederhana: di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih, siapa sebenarnya yang ingin membeli sebuah klub sepak bola daerah?

Mengelola klub sepak bola bukan perkara murah. Biaya operasionalnya sangat besar. Mulai dari gaji pemain dan pelatih, transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan mengikuti kompetisi. Sementara itu, sumber pendapatan klub, khususnya di level Liga 3, belum tentu mampu menutup seluruh biaya tersebut.

Baca Juga :  Kortastipidkor Polri Tetapkan Empat Tersangka Korupsi, Kerugian Negara Capai Rp486 Miliar

Artinya, memiliki klub sepak bola bukan hanya soal prestise, tetapi juga soal kemampuan membiayai operasional secara berkelanjutan. Karena itu, muncul pertanyaan lain yang justru lebih penting: kalau kemungkinan ada pembeli saja belum tentu realistis, mengapa isu “tidak dijual” menjadi hal yang tiba-tiba disampaikan di siang bolong?

Publik sesungguhnya tidak sedang sibuk memikirkan apakah Pasuruan United akan dijual atau tidak, karena itu tidak penting. Publik lebih ingin mengetahui sesuatu yang jauh lebih mendasar. Bagaimana klub ini dikelola?
Dari mana sumber pendanaannya?
Bagaimana keberlanjutan finansialnya?
Itulah pertanyaan yang hingga kini jauh lebih menarik daripada sekadar slogan “Not For Sale.”

Baca Juga :  Jual Tanah untuk Perumahan, Warga Warungdowo Kehilangan Aset Akibat Tertipu Cek Kosong

Sebab, bagi masyarakat, persoalannya bukan siapa yang akan membeli, melainkan siapa yang membiayai, bagaimana pembiayaannya, dan apakah seluruh prosesnya berlangsung secara transparan.
Karena pada akhirnya, sebuah klub sepak bola tidak cukup bertahan hanya dengan slogan. Ketegasan menolak dijual itu kedengarannya lucu. Ketahanan finansial di tengah ekonomi yang sulit — itu yang harus dibuktikan, bukan sekadar diucapkan. (Syr)

FORMAT PASURUAN
Ismail Makky, SE., SH., MM. (Ketua)
OPINI FORMAT PASURUAN — SERI 11

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Penolakan Gereja di Sukalipura Bangil, Barikade Gus Dur Ajak Warga Kedepankan Toleransi Antar Umat Beragama

21 Juli 2026 - 10:20 WIB

BRI Dukung Ekspansi Bebek Bang Alex, Kini Buka Cabang di Besuki dan Kembangkan Coffee Space

21 Juli 2026 - 05:41 WIB

Polresta Sumenep Ungkap Peredaran Sabu Jaringan Sampang, Tiga Tersangka Diamankan

21 Juli 2026 - 04:04 WIB

DIMANA DPRD, TP3D, SEKDA, INSPEKTORAT, DAN BAGIAN HUKUM SELAMA INI?

21 Juli 2026 - 03:39 WIB

Dugaan Penyalahgunaan BBM Makin Marak di Wilayah Kabupaten Pasuruan, Dimana Peran APH?

21 Juli 2026 - 01:51 WIB

Wakil Bupati Merangkap CEO Pasuruan United, Bagaimana Penjelasanya Menurut UU Nomor 23

21 Juli 2026 - 01:15 WIB

Trending di Berita Utama