METROPAGI.ID, PASURUAN — Semarak Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 mulai digelar di berbagai daerah, tak terkecuali di Desa Wonosari, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Acara ini dimeriahkan oleh kehadiran beberapa sound horeq, yang menarik antusiasme peserta dan penonton berdatangan untuk memeriahkannya.
Namun, sejumlah masyarakat sangat menyayangkan adanya peserta wanita yang menampilkan aksi berjoget yang dinilai kurang pantas dilihat anak di bawah umur serta tidak mencerminkan budaya Indonesia atau budaya ketimuran. Terlebih lagi, lokasi garis finish dan pentas seni berada tepat bersebelahan dengan tempat ibadah (masjid) serta lingkungan pendidikan.

“Kami sangat menyayangkan mengapa panitia penyelenggara memilih finish dan pentas seni tepat di samping masjid dan di tempat pendidikan. Ini kurang etis, karena saat adzan Maghrib dan Isya berkumandang, suara adzan kalah dengan dentuman sound horeq. Terus terang kami sebagai warga sebenarnya tidak sepakat, tetapi ini keputusan panitia dan hal tersebut kami sayangkan karena seolah-olah desa ini bukan milik bersama,” ujar beberapa warga kepada awak media, Sabtu (08/08/2026).
Pihak media telah berupaya menghubungi Kepala Desa Wonosari, namun yang bersangkutan sulit untuk dihubungi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan maupun penjelasan resmi terkait pemilihan lokasi tersebut. (Red)








